Mangente Pendidikan SBB Ditengah Pandemi, Sangaji Ingin Pastikan Pelajar Dapat Hak Belajar

Tak Berkategori

KABARTERKINI.NEWS– Dalam rangka menjawab problematika pendidikan di bumi saka mese nusa, akibat dampak dari pandemi Virus CORONA atau COVID-19, Kepala Dinas Pendidikan Seram Bagian Barat (SBB), Dr. M Sangadji, gencar melakukan agenda “Mangente Pendidikan”, dengan bertemu guru dan tokoh-tokoh pendidikan di desa-desa dalam kabupaten SBB.

Dr. M Sangadji, dalam keterangan pers menjelaskan, agenda “Mangente Pendidikan” bukan merupakan program dinas melainkan inisiatif dinas pendidikan SBB untuk mengetahui kondisi di lapangan, maka dalam setiap kunjungannya, dinas pendidikan SBB menghimpun keluhan dari masyarakat terutama tenaga guru dalam menyikapi pandemi COVID-19.

“Agenda ini dijalankan diluar jam kantor di akhir pekan serta di waktu luang. Dalam agenda perdana kami berkunjung ke Taman Baca Masyarakat (TBM) Rumah Inspirasi desa Iha-Kulur pada tanggal 9 mei 2020 lalu,”kata Sangadji.

Rumitnya penanganan wabah tersebut, kata Sangadji, membuat para pemimpin menerapkan kebijakan yang super ketat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Dengan membuat Social distancing bagi setiap negara berdampak negatif terhadap masyarakat sehungga menghambat laju pertumbuhan dan kemajuan dalam berbagai bidang.

“Tak terkecuali bidang pendidikan ikut juga terdampak kebijakan dengan meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah/madrasah menjadi di rumah, membuat kelimpungan banyak pihak,”ucap Sangadji

Olehnya itu, lanjut Sangadji, Peralihan cara pembelajaran ini telah memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran dapat berlangsung dengan pilihan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran daring. Namun juga terdapat faktor yang menghambat efektifitas pembelajaran diantaranya; Penguasaan teknologi yang masih rendah.

Harus diakui bahwa tidak semua guru melek teknologi terutama guru generasi X (lahir tahun 1980 ke bawah) yang pada masa mereka penggunaan teknologi belum begitu masif.

Sebenarnya mereka bukan tidak bisa kalau mau belajar, pasti mampu karena prinsipnya guru adalah manusia pemelajar yang harus selalu siap menghadapi perubahan zaman sekaligus mengikuti perkembangannya.

Keadaan hampir sama juga di alami oleh para siswa, tidak semua sudah terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-harinya. Di sekolah pun mereka harus rebutan dalam menggunakan perangkat teknologi pendukung pembelajaran karena keterbatasan sarana yang dimiliki oleh sekolah/madrasah bahkan mungkin mereka tidak dikenalkan teknologi dalam
pembelajaran.

Selain itu, faktor yang menghambat efektifitas pembelajaran ialah

“Keterbatasan sarana dan prasarana.
Kepemilikan perangkat pendukung teknologi juga menjadi masalah tersendiri. Bukan rahasia
umum bahwa kesejahteran guru masih sangat rendah, jadi jangankan untuk memenuhi hal-hal
tersebut, untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya saja masih banyak guru yang kesulitan. Hal yang sama pun terjadi pada anak didik, karena tidak semua orangtua mereka mampu memberikan
fasilitas teknologi kepada anak-anaknya,” akui Sangaji.

Bahkan, lajutnya, kalau pun mereka punya fasilitas namun tidak digunakan untuk media pendukung pembelajaran karena ketidak tahuan orang tua dalam membimbing anaknya untuk pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Faktor lain Jaringan Internet. Pembelajaran daring tak bisa lepas dari penggunaan jaringan internet, tidak semua sekolah/madrasah terkoneksi ke internet sehingga dalam keseharian, para guru belum terbiasa dalam memanfaatkannya, kalaupun ada, terkadang jaringan internet tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan jaringan.

Terakhir dari faktor itu ialah Biaya.
Jaringan internet sangat dibutuhkan dalam pembelajaran daring menjadi masalah tersendiri bagi guru dan siswa, kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet melonjak sehingga banyak guru dan orang tua siswa tidak siap dalam menambah anggaran dalam menyediakan internet.

“Beberapa persoalan tersebut telah menjadi kepedulian dinas pendidikan terkhusu saya pribadi terhadap amanah yang diemban ini. Turun lapangan dan mendengar keluhan serta mencari solusi. Saya pikir ini bisa menjadi tolak ukur, komitmen bersama untuk pendidikan SBB ditengah pandemi yang lebih baik,” tutup Sangadji.*** Just

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.