Hidroponik Sebagai Solusi Kekurangan Lahan

Indonesia Indah Opini dan Artikel Pendidikan

Hidroponik sebagai solusi kekurangan lahan di Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku. *** Muh. Arif Pikahulan.

KABARTERKINI.NEWS.ID– Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia terkhususnya di kecamatan Huamual kabupaten Seram Bagian Barat provinsi Maluku, Masyarakat yang menempati daerah tersebut, Sebagian beasar berprofesi sebagai petani yang turut sebagai pedani dengan membudidayakan tanaman holtikultura, untuk lahan yang dimiliki masyarakat di daerah Huamual banyak dimanfaatkan untuk budidaya tanaman holtikultura, dimana tanaman holtikultura sebagai salah satu komoditas tanaman yang penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di daerah tersebut.

GAMBARAN UMUM MALUKU

MALUKU adalah salah satu provinsi di kawasan Indonesia bagian timur yang memiliki posisi strategis, karena kedudukannya berada antara sebagian wilayah Barat dan Tengah Indonesia dengan Papua di bagian Timur, serta menjadi penghubung wilayah Selatan yakni Negara Australia dan Timor Leste dengan wilayah Utara yaitu Maluku Utara dan Sulawesi. Selain itu, Provinsi Maluku berada pada jalur lintas internasional yaitu dilalui oleh 3 (tiga) Alur Laut Kepulaun Indonesia (ALKI). Posisi ini mempunyai arti yang sangat strategis di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi.

Letak Geografis

Secara geografis, Provinsi Maluku berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara di bagian Utara, Provinsi Papua Barat di bagian Timur, Negara Timor Leste dan Negara Australia di bagian Selatan, serta Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah di bagian Barat.

Sedangkan secara astronomi, Provinsi Maluku terletak antara 2o30’ – 8o30’ LS dan 124o – 135o30’ BT. Sebagai daerah kepulauan, Provinsi Maluku memiliki luas wilayah 712.480 Km2, terdiri dari sekitar 92,4% lautan dan 7,6% daratan dengan jumlah pulau yang mencapai 1.412 buah pulau dan panjang garis pantai 10.662 Km.

Sejak tahun 2008, Provinsi Maluku terdiri atas 9 kabupaten dan 2 kota dengan Kota Ambon sebagai ibukota Provinsi Maluku.
Dengan luas dataran maluku sebesar 7,6 % sehingga kekurangan lahan pada daerah provinsi maluku menjadi salah satu masalah dalam melakukan budidaya tanaman dalam hal ini budidaya tanaman holtikultura untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari hari masyarakat membutuhkan lahan yang cukup luas untuk membudidayakan tanaman holtikultura.

Luas lahan yaitu besarnya luasan lahan yang dikelola dalam berusaha tani untuk menghasilkan produksi. Semakin besar lahan yang dipakai tentunya akan mendapatkan hasil semakin meningkat.

Usaha tani di ukuran kecil tidak mendapatkan untung untuk mencukupi kehidupan petani dan keluarganya, kebalikannya jika ukuran suatu lahan meningkat, maka kecenderungan dapat memperoleh hasil yang semakin tinggi.

Besar atau minimnya hasil suatu usaha pertanian akan mempengaruhi pendapatan petani, yang mana petani memiliki luas area akan mendapatkan hasil yang banyak sehingga mendapatkan hasil banyak, sedangkan petani yang mempunyai luas lahan sedikit maka produksinya juga sedikit dan akan mendapatkan pemasukan yang sedikit.

Tanaman holtikultura

Tanaman hortikultura merupakan komponen penting dalam pembangunan pertanian. Pemasaran produk komoditas hortikultura telah mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri (ekspor), sehingga mampu menghasilkan devisa untuk negara.

Selanjutnya tumbuhnya kesadaran konsumen bahwa produk hortikultura membawa manfaat ganda, yaitu untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan dan estetika serta menjaga lingkungan hidup. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa teknologi dan varietas tanaman hortikultura khususnya pada tanaman sayuran, buah-buahan dan tanaman hias (Balitbangtan, 2015)
Tanaman hidroponik bisa dilakukan secara kecil-kecilan di rumah sebagai suatu hobi ataupun secara besar-besaran dengan tujuan komersial.

Budididaya tanaman ini tidak memerlukan lahan yang luas, bisa juga dilakukan di pekarangan atau di teras rumah.

Perawatan hidroponik ini sangat mudah, karena tumbuhan, tanaman atau sayursayuran dapat tumbuh dengan mudah tanpa menggunakan tanah, hanya dengan talang air, botolbotol kemasan yang sudah tidak terpakai dan juga bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak diperlukan seperti ember, baskom dan sebagainya (Mulasari et al., 2018).

Menurut Badan Pusat Statistik (2015) produksi sayuran meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2013 produksi sayuran yaitu 11.558.449ton dan pada tahun 2014 meningkat sebesar 11.918.571 ton. Hal ini menunjukkan harus adanya peningkatan produksi sayuran untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan komoditas sayuran sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk di Indonesia. Teknologi hidroponik ini termasuk teknologi baru, di Indonesia sendiri mulai dikenal sejak tahun 80-an.

Teknologi Hidroponik

Teknologi hidroponik merupakan salah satu teknologi yang memudahkan petani dalam melakukan budidaya tanamn tanpa menggunakan media tanah sebagai media tumbuh satu tanaman, kualitas tanaman hidroponik juga tidak kalah baik dibandingkan dengan kualitas tanaman yang dibudidayakan menggunakan media tanah.

Budidaya tanaman yang mengguankan hidroponik juga memiliki masa panen yang cukup lebih cepat dibandikakan dengan budiaya secara konvensional, budidaya tanaman menggunakan system hidroponik memudahkan petani dalam masalah kekurangan lahan untuk Bertani, sehingga teknologi hidroponik sangat penting dan dibutuhkan didaeraha yang memiliki masalah kekurangan lahan, dan membantu petani dalam melakukan budidaya tanaman holtikultura tanpa memikirkan lahan yang cukup besar.

Pemanfaatan hidroponik sistem sumbu tersirkulasi memiliki kelebihan secara khusus yaitu kombinasi kedua sistem hidroponik ini yaitu larutan nutrisi dapat tersirkulasi serta volume larutan hara yang dibutuhkan lebih rendah.

Kelebihan lain dari sistem ini yaitu larutan nutrisi dalam keadaan tersedia, sirkulasi mencegah lumut, bersih dan mudah dikontrol, tanaman tumbuh dengan optimal, umur panen menjadi lebih singkat dan penggunaan nutrisi yang efisien. Namun kekurangan sistem tersebut yaitu biaya investasi cukup mahal. (Kamalia, S., Dewanti, P., & Soedradjad, R. 2017).****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *